15/02/2017

Winter Wonderland

Nah, kali ini saya akan berbagi cerita tentang liburan saya selama seminggu di Gunung Alpen, Prancis. Tepatnya di kota Lanslevillard. Liburan kali ini cukup berbeda, karena saya tidak pernah melakukan perjalanan jauh selama musim dingin. Perlengkapan yang disiapkan pun terbilang cukup banyak, mulai dari baju hangat yang tebalnya seperti kacamata si Betty, boots, syal, serta masih banyak lagi. Lagi-lagi di sponsori oleh keluarga angkat saya. Bref ! Jadi selama seminggu kami berlibur ke gunung untuk bermain ski. Salah satu liburan kelas atas. "Seminggu liburan main ski, sama seperti tiga minggu liburan musim panas", kata mama angkat saya. Bayangin aja, mulai dari biaya kursus ski (bagi pemula), sewa/beli perlengkapan ski (kostum, helm, kacamata, sepatu, papan ski, dan tongkat ski), biaya kartu berlangganan untuk naik kereta gantung menuju puncak, Chalet (penginapan), dan beberapa biaya tak terduga.

Itu sebabnya saya tidak bermain ski, karena biaya yang harus saya keluarkan untuk kursus, sewa peralatan serta membeli kartu berlangganan untuk naik kereta gantung. Menikmati keindah gunung, serta bermain salju sudah lebih dari cukup. Dan yang pasti selalu diberi makan ! Maka dunia persilatan akan selalu kondusif.

Perjalanan kami mulai pada hari Jumat, tanggal 27 Januari pada pukul 18.30. Kloter pertama yang berangkat adalah saya, Lucie, Matthieu serta Pierre (papa angkat saya). Kloter kedua Noé, Mamie Laurence, dan Marcel. Mereka berangkat Sabtu subuh menggunakan mobil Mamie dan Marcel (mama dan papa tiri Eve, mama angkat saya). Dan kloter ketiga, yang terakhir adalah Eve, yang berangkat Sabtu pagi menggunakan kereta. Kondisi Eve yang sedang hamil tujuh bulan, membuat dia lebih memilih menggunakan kereta ketimbang mobil. Menurutnya kereta lebih nyaman. Maklum saja, perjalanan yang ditempuh memakan waktu kurang lebih delapan jam.

Setelah menempuh empat jam perjalanan, kami berempat menginap di sebuah hotel murah nan meriah. Hanya untuk mengistirahatkan otot-otot Pierre yang tegang. Berhubung hanya dia yang mengemudi. Saat sang surya kembali terbit, kami pun melanjutkan perjalanan. Saat jalan sudah mulai berliku, saya mulai menyadari bahwa tempat tujuan kami sudah semakin dekat. Pemandangan di kiri dan kanan pun amat sangat menarik perhatian. Pohon pinus, sungai, dan yang pasti semuanya dibungkus oleh putihnya salju. Pertama kali terlintas di dalam pikiran saya adalah, pemandangan yang saya lihat ini sama persis dengan cerita dongeng semasa kecil saya ! Beberapa kali kami melewati terowongan yang cukup panjang.

Akhirnya, sampailah kami di kota Lanslevillard. Kota kecil, yang dikelilingi oleh pegunungan dan aliran sungai yang tak kalah menarik perhatian saya. Tibalah kami disebuah Chalet (penginapan) yang telah di pesan oleh Pierre, besar dan dekat dengan tempat bermain ski.

Sayangnya alat penghangat ruangan di Chalet tersebut tidak berfungsi. Suhu di dalam ruangan mencapai dua derajat celsius. Ditambah lagi air di dalam WC yang berubah menjadi es batu. Otomatis jika kami ingin melakukan "panggilan alam" itu menjadi permasalahan utama. Pierre mengambil tindakan cepat untuk melihat hotel, apartemen, serta Chalet  di sekitar tempat kami seharusnya menghabiskan waktu dalam seminggu kedepan. Setelah hampir dua jam berkeliling dan menelfon seluruh bala bantuan, dia mendapatkan sebuah apartemen yang bergaya modern. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah, apartemen tersebut hanya berkapasitas untuk enam orang. Sementara jumlah kami delapan orang. Setelah perbincangan yang alot dengan sang mertua, dia pun memutuskan untuk tinggal satu malam di apartemen tersebut. Mamie dan Marcel pun tinggal terpisah di sebuah Chalet yang lebih besar.

Keesokan harinya, Eve memutuskan untuk pindah ke Chalet yang dihuni Mamie dan Marcel. Walaupun harganya cukup menohok leher saya, seribu empat ratus tiga puluh lima ribu euro selama satu minggu (gak usah dihitung, intinya banyak !) itu tidak menyurutkan niat Eve untuk pindah. Karena dia orang yang selalu menguamakan kebersamaan serta kekeluargaan. Oh iya, sedikit informasi tentang budaya. Di Prancis itu, istri (perempuan) yang menjadi kepala rumah tangga. Memang tidak semua, tapi secara umum dapat dikatakan demikian. Juga beberapa orang yang saya kenal selama berada di Prancis, serta pengalaman pribadi dengan beberapa pria Prancis. Nah, daripada jadinya curhat, dan melow lagi mendingan dilanjut aja. Jadi seperti itu. (Oke, gagal fokus !)
Perempuan Prancis memang dikenal pemegang kendali di rumah, mereka yang mengambil beberapa keputusan, suami (laki-laki) yang melayani mereka, pendapatnya yang wajib didengar, dan satu lagi anak-anak pun lebih takut sama mamanya daripada sama papanya. Sangat berbeda 851 derajat dengan wanita Indonesia. Atau karena para pria Prancis yang lebih paham dengan posisi bahwa wanitalah yang utama.

Lanjut lagiiiiii !! Ukuran Chalet yang lebih dari cukup untuk delapan orang. Nyaman, hangat, dekat dari tempat pemberhentian bis, bar, toko roti, serta beberapa restoran. Lokasi yang cukup strategis. Pembagian kamar pun dimulai. (Tadaaaaaaa....!!!!!) Bagian yang tidak terlalu menari bagi saya. Kenapa ? Karena pasti saya tidur dengan Lucie. Masalahnya ? Dia suka tiba-tiba nangis tengah malam. Terus ? Dia teramat sangat mudah terbangun. Apalagi ? Dia suka mengeluh dan protes, "Maman, Rigel, elle ronfle. J'arrive pas dormir....." sungguh, itu sesuatu yang membuat hati saya terlukahaha. Wajar ajalah ya, sebagai manusia. Ternyata ketakutan saya benar, Lucie bersikeras tidak mau tidur dengan saya. Sampai akhirnya, saya tidur dengan Noé. Tidak jadi masalah. Justru itu menjadi sebuah kabar gembira.


Senin pagi yang cerah, alam pun seakan mendukung saya untuk berjalan-jalan keliling kota.


Kota kecil nan sederhana. Namun hal tersebut tidak menyurutkan rasa antusias saya untuk tetap menelusuri jalan-jalan setapak yang ada di kota ini.


Sebagian besar rumah di kota ini terbuat dari batu. Tidak sedikit juga yang terbuat dari kayu.


Ada lokasi yang disediakan bagi para wisatawan yang ingin bermain ski untuk para pemula, seluncuran ataupun hanya sekedar membuat manusia salju. Gratis !


Saya bersama Eve memutuskan untuk melakukan randonnée ke atas gunung yang bisa dilalui oleh pejalan kaki. Karena tidak semua lokasi bermain ski dapat dilalui oleh para pejalan kaki. Kami pun menggunakan télésiège untuk mencapai ke lokasi tersebut.


Tidak sedikit para pejalan kaki yang melakukan randonnée menggunakan raquette. Dua buah alat yang berbentuk seperti raket dan berfungsi untuk memudahkan penggunanya berjalan di salju.


Dan yang pasti para pemain ski yang berseluncur dengan indah di atas butiran-butiran putih. Seputih cintaku padanya (apa sih).


Setelah sampai di pos utama, pandangan saya tertuju pada sebuah danau yang telah berubah menjadi gumpalan es yang sangat indah.




Diketinggian 2083 meter ini pun terdapat restoran yang juga menyediakan beberapa kamar bagi para pengunjung yang hendak bermain ski atau hanya sekedar menikmati indahnya gunung Cenis.


Saya juga dapat menemukan fasilitas kereta yang ditarik oleh anjing-anjing gunung. Biaya yang diperlukan untuk menikmati hiburan ini adalah sekitar 30-45€/jam



Setelah cukup menghabiskan waktu kurang lebih dua setengah jam untuk berjalan-jalan, kami pun memutuskan untuk turun. Karena kereta gantung yang kami gunakan akan segera ditutup.


Hal wajib yang saya lakukan dan yang menjadi favorit saya setiap mengunjungi ke tempat-tempat baru adalah, MAIN KE PASAR !!!!


Jadi bukan hanya di kota ini yang memiliki pasar kaget. Tetapi hampir semua wilayah di Prancis punya jadwal rutin untuk pasar kaget ini.


Satu hal lagi yang menjadi beban hidung saya selama di Prancis adalahm KEJU ! Sumpah demi neptunus, keju asli Prancis itu rasanya kayak ketiak !! Dan aromanya seperti kaos kaki anak SMP yang basah namun tetap dibiarkan di dalam sepatu. Kebayang ? Sebaiknya jangan !


Bukan berarti tidak ada yang menarik di pasar ini. Salah satu incaran utama, dan yang membuat saya bisa melupakan sejenak rasa Bakso ataupun Mie Ayam.... OUI, C'EST LES SAUCISSONS !! Pertama kali mencoba makanan ini, langsung jatuh cinta dan tidak mau pindah ke lain hati. Jadi, Saucisson itu sosis yang dikeringkan. Setahu saya terbuat dari daging babi. Dan penuh dengan lemak, makanan yang tidak sehat jika dikonsumsi setiap hari. Tapi enak. Tapi tidak sehat. Tapi enak, jadi langsung dibungkus.


Lapak yang menarik hati dan perhatian saya selanjutnmya serta beberapa remaja yang mengunjungi pasar tersebut adalah lapak permen !



Kota tempat kami berlibur ini hanya membutuhkan waktu masing-masing satu jam menuju Jenewa, Swiss dan Turin, Italia. Itu sebabnya sangat mudah menemukan atribut serta produk dari negara-negara tersebut.


Hari ketiga, saya pun kembali naik ke gunung yang kali ini tingginya sekitar 2200 meter. Tetap menggunakan télésiège.


Yang lebih menarik perhatian saya pada liburan musim dingin kali ini adalah, Snowboard. Mungkin karena lebih memacu adrenalin. Serta peminatnya sembilan puluh persen anak muda (kebanyakan cowok, ganteng-ganteng pula !!! bukan ganteng-ganteng srigala loh ya..). Namun tidak sedikit juga orang-orang berusia lanjut yang melakukan snowboarding. Saya pun langsung memasukkannya ke dalam bucket list tahun depan.


Cukup menikmati keindahan Sang Pencipta, saya pun singgah ke sebuah kafe yang dikelilingi oleh pegunungan yang diselimuti oleh salju. Hanya sekedar meneguk segelas cokelat panas.



Sehari sebelum kembali menjalani rutinitas, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi desa kecil tak jauh dari kota Lanslevillard. Nama desa tersebut adalah Bonneval Sur Arc. Salah satu desa terindah di Prancis. Dalam perjalanan menuju desa tersebut, mata saya disuguhkan oleh pemandangan yang sangat indah. Salah satunya adalah air terjun kecil yang membeku. Sayang saya tidak dapat mengabadikannya. Setelah menempuh perjalanan empat puluh menit, akhirnya saya pun tiba di tempat tujuan.
Baru saja turun dari mobil, saya langsung disambut oleh gerombolan anjing yang mungkin merasakan dinginnya udara pada sore itu.


Kesan pertama setelah melihat beberapa rumah khas desa ini adalah negeri dongeng itu nyata ! Rumah-rumah tersebut hampir sama dengan imajinasi sewaktu  kecil ketika mama membacakan kisah Si Kerudung Merah dan kisah Kucing Bersepatu. Rumah batu yang mungil, serta jalan-jalan kecil yang tertutup oleh salju. Ditambah lagi pegunungan-pegunungan putih yang mengelilinginya.


Tidak terlalu sulit untuk menemukan kafe di desa ini.


Atau pun menemukan tempat yang menjual keju khas desa tersebut yang siap untuk menjadi buah tangan untuk keluarga maupun kerabat.


Seperti kebanyakan kota-kota ataupun desa-desa di Prancis, sangat mudah untuk menemukan gereja. Demikian halnya di desa ini. Gereja yang sepi. Wajar saja, karena kunjungan saya waktu itu tidak bertepatan dengan hari minggu. (Well, i just try to be funny guys)


Langit pun mengisyaratkan kesedihannya melepas kepulangan saya. Begitu pula salju yang turun tiada henti. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Saatnya kembali ke penginapan untuk mengemas barang-barang.


 Sabtu pagi kami pun kembali ke Rouen karena takut terjebak oleh salju, yang dapat melumpuhkan transportasi. Karena pada hari itu salju yang turun amat sangat banyak.

Pengalaman yang lagi-lagi tidak akan pernah terlupakan ! Satu halaman sudah penuh dalam buku kehidupan saya. Saatnya berpindah ke halaman baru.

No comments:

Post a Comment