03/10/2016

SUMMER IS OVER

Summer Is Over, memang betul bahwa musim panas memang sudah (akan) berakhir. Di Eropa khususnya Prancis, sudah mulai memasuki musim semi. Dan ini adalah musim semi kedua saya di Benua Biru.
Sedih? No way! Senang? No.. No.. Kenapa sedih, karena setiap hari akan selalu memakai celana jeans (menurut saya itu amat sangat tidak  nyaman), siapkan fisik untuk mengangkat kayu seminggu sekali (untuk perapian). Senangnya karena akan kedinginan, tidur lebih nyenyak (dingin-dingin empuk), hemat deodoran (karena ga akan jarang keringat), waktu akan mundur sejam (di Eropa, setiap memasuki musim dingin waktu akan lebih lambat satu jam), seperti itu.

Ditulisan kali ini, saya mau berbagi sedikit tentang liburan musim panas saya di Pulau yang terletak tidak jauh dari Italia, Korsika.
Kami memulai perjalanan menggunakan mobil dari Buchy menuju Marseille. Kurang lebih perjalanan yang kami tempuh sekitar sepuluh jam. Sesekali kami mampir untuk beristirahat, karena anak-anak cepat bosan duduk berla-lama di dalam mobil.

Lucie.

Setiba di Marseille kita disambut dengan kebakaran hutan di sepanjang pinggiran jalan tol menuju pusat kota. Ada banyak mobil pemadam kebakaran, serta pesawat pemadam kebakaran yang berusaha untuk memadamkan api.

Kepulan asap.

Setelah perjalanan panjang yang kami tempuh, tibalah kami di Port Marseille Fos. Ya, kami melanjutkan perjalan dengan menggunakan kapal laut. Kapal yang "kece badai", menurut saya. Dilengkapi dengan kolam renang, jacuzzi, serta bar.


Sunset & Beer.
Sunset.

Berhubung liburan murah meriah (karena semua biaya keluarga angkat saya yang tanggung), saya tidur di emperan kapal. Karena keluarga angkat saya  memesan satu kamar dan isinya hanya empat tempat tidur. Tidak jadi masalah, karena kapalnya bersih, jauh dari yang ada dalam bayangan. Karpetnya, tidak beda jauh dengan karpet merah Grammy Awards.

Morning Selfie.
Saya dan keluarga angkat menghabiskan waktu selama tiga minggu di Korsika. Dalam kurun waktu tersebut, kami tinggal di sebuah perkemahan berbintang empat di kota Porto-Vecchio. Dalam benak saya sebelum berangkat, perkemahan yang akan kami tempati adalah seperti perkemahan yang saya dan teman-teman biasa lakukan sewaktu di Indonesia. SALAH BESAR. Tidak beda jauh dengan hotel. Hanya saja kami tidur di tenda, tidak ada televisi dan pendingin ruangan. Bayangkan mereka membawa kulkas, lemari piring, juga lemari untuk meletakkan peralatan serta bumbu-bumbu dapur. Luar biasa!
Matthieu & Lucie.
Camping La Vetta.
Kelas pilates.

Kegiatan yang kami lakukan yaitu, pagi hingga siang hari di kolam renang dan siang hingga sore hari di pantai. Ada beberapa pantai yang kami kunjungi, di antaranya Saint Cypryan, Palombaggia, Santa Giulia, dan Pinarellu.

Pantai Palombaggia
Tampak Pulau Sardina (Italia).
Pantai Saint Cypryan.

Pantai Santa Giulia.
Pantai Pinarellu.
Kami juga sempat mengunjungi Kota Bonifacio yang terkenal dengan keindahan tebingnya.

Tebing Bonifacio.
Hijau Tosca.
Pinggiran tebing.
"Keluarga Cemara".
Menu.
Bangunan khas Mediterania.

Puas melihat keindahan pantainya, kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu sungai di kota Lecci.

Piknik cantik.
Sungai di Lecci.

Barola-Piscia cava-ucavu.
Tidak lupa, kami pun mengunjungi pusat kota tua Porto-Vecchio. Menariknya adalah banyaknya barang-barang buatan dari Indonesia yang dapat saya temui di sana. Bahkan ada salah satu toko yang menjual barang-barang khas Bali. Saya sempat berbincang dengan penjaga toko tersebut, dan dia mengatakan bahwa pemilik toko sudah tinggal delapan tahun rajin bolak-balik ke Indonesia.

Sudut kota tua Porto-Vecchio.
Bali-là
Crepes.
Bukan berarti selama tiga minggu liburan berasa bahagia tanpa duka nestapa. Selama kurang lebih 12 hari, saya mengalami alergi akut stadium lanjut. Jujur saja, pada saat itu pikiran negatif sempat terlinas di kepala. "Mungkinkah saya akan meninggal di negaranya orang, lalu bagaimana jenazah saya akan di bawa pulang ke Indonesia? Pasti biayanya mahal, kasihan orang tua.". Bukan tanpa alasan saya berfikir demikin. Ibu angkat saya yang berprofesi sebagai seorang dokter pun sudah "angkat tangan" dengan alergi yang saya derita. Beliau sudah mengupayakan segala cara dan memberikan berbagai macam jenis obat, namun tidak ada hasil. Bayangkan saja, dalam sehari saya harus mengkonsumsi empat jenis obat (11-12 butir). Mereka pun memutuskan untuk membawa saya ke dokter ahli kulit. Puji Tuhan, dua hari setelah kunjungan dadakan tersebut kondisi tubuh saya berangsur-angsur membaik.

Bentol.
Tanpa terasa tiga minggu pun berlalu. Kami menggunakan kapal yang sama untuk kembali ke Marseille. Lucunya, pada hari pertama tiba di Korsika kami di sambut dengan hujan yang deras. Hal itu jarang terjadi, karena sudah sejak bulan April tidak pernah hujan di pulau tersebut. Dan di hari terakhir pun kami rintikan hujan melepas kepergian kami. Seakan alam pun bersedih jika kami pergi.


Samapi jumpa Korsika.
Perhatian.
Sunrise di Marseille.

Pengalaman yang sangat berkesan. Banyak pelajaran yang dapat saya petik dari perjalanan selama tiga minggu di Korsika. Berharap suatu hari nanti dapat kembali ke Pulau ini.